Selasa, 19 Mei 2009

Kekuatan Pikiran

Saat kita mendengar nama Joe Sandi, pasti kita sudah tidak asing lagi. Dia adalah pemenang dalam ajang kompetisi The Master, yang ditayangkan di salah satu televisi swasta. Bila kita mencermati aksinya, kita pasti akan mendengar dua kata yang selalu ia ucapkan yaitu Kekuatan Pikiran.
Rhonda Byrne penulis buku The Secret pun mengatakan bahwa di dalam diri manusia terdapat sebuah magnet yang lebih kuat daripada apapun. Dan magnet itu datangnya dari pikiran manusia. Ketika manusia memikirkan sesuatu, otomatis pikiran itu akan menarik apa yang telah dipikirkannya.

Bila kita mengingat peristiwa saat Yesus membangkitkan anak Yairus, DIA berkata kepada Yairus : "Jangan Takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat." Disini Tuhan Yesus mengajak Yairus untuk belajar tiga hal. Yang pertama : Jangan takut. Jangan takut disini berbicara tentang kekuatiran, saat kita kuatir maka sistem syaraf kita menjadi lemah dan hal itu dapat melumpuhkan pikiran kita sehingga kita tidak dapat berfikir rasional. Otomatis hal tersebut akan mempengaruhi sikap dan tindakan kita. Yang kedua : Percaya saja. Kata percaya sendiri memiliki arti penyerahan tanpa syarat. Yang ketiga : Anakmu akan selamat. Belajar untuk mengimani sesuatu meski yang dialami saat ini berkata lain.


Pikiran memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, tentunya tidak dapat menyaingi kekuatan Tuhan kita. Namun kekuatan pikiran ini dapat mempengaruhi perilaku dan mental seseorang. Karena dengan kita memikirkan hal yang positif maka kita akan selalu terinspirasi dan termotivasi dengan pikiran tersebut. Maka dari itu manfaatkanlah kekuatan pemikiran ini untuk
mewujudkan visi yang sangat luar biasa yang tentunya akan menunjang kehidupan kita.






















Minggu, 17 Mei 2009

Tenang VS Kuatir

Adakalanya, semua yang kita lakukan salah. Semakin kita takut melakukan kesalahan, semakin banyak kesalahan yang kita perbuat. Dua minggu terakhir ini, saya rasakan begitu berat. Rasanya semua yang saya kerjakan dan lakukan itu salah. Bahkan saat saya merevisi kesalahan saya, itupun salah. Oh my GOD!!!!!! Kalau boleh berhiperbol sedikit, sepertinya jantung saya serasa ingin lompat keluar, otak mogok bekerja, mata ingin melarikan diri untuk bersembunyi, sampai-sampai tidak ada lagi yang sanggup saya ucapkan.

Mungkin begini ya rasanya, menjadi seorang bos yang sedang ditagih hutang dan dia belum ada dana untuk membayar hutang karena jumlahnya yang sangat besar. Pasti dia tidak bisa tidur atau malah sudah tidak ingin bangun lagi dari tidurnya. Tampaknya pengandaian saya memang sedikit berlebihan, tetapi inilah yang sedang saya rasakan. Nafsu makan berkurang, tidur susah, bahkan kegiatan yang menyenangkan sekalipun, rasanya menjadi biasa saja.
Benar juga kata Bang Rhoma: "Kalau sering kena angin malam (Begadang), segala penyakit akan mudah datang." Terbukti dengan alergi yang tak kunjung sembuh. Kata dokter, "Penyebabnya mungkin dari gangguan psikis." Dan beberapa hari ini badan rasanya tidak enak, orang Jawa biasa bilang "NGGREGES".

Sampai pada akhirnya saya putuskan untuk menenangkan diri dan intropeksi . Saat itu saya diingatkan ayat ALKITAB yang berbunyi : Dalam tinggal tenang terletak kekuatanmu dan Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
Dari situ saya menyadari orang yang dalam hatinya penuh dengan ketakutan dan kekuatiran tidak akan menghasilkan apa-apa, karena ketakutan dapat melumpuhkan tubuh dan pikiran.
Maka dari itu, jadilah tenang. Karena hanya dengan hati yang tenang, kita tau apa yang kita lakukan (atau tau apa yang harus kita lakukan) dan akan menghasilkan sesuatu yang optimal.

Kamis, 19 Februari 2009

Kamis, 12 Februari 2009

Sisi Lain dari Kota Pelajar









Pelacuran adalah penjualan jasa seksual seperti berhubungan seksual atau oral seks dan sebagainya, demi mendapatkan sejumlah uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah Pekerja Seks Komersial (PSK).

Wanita yang bekerja sebagai pelacur seringkali di anggap sebagai wanita nakal, biasanya tidak diterima oleh masyarakat dan cenderung diasingkan karena masyarakat menganggap tindakannya sungguh hina. Apabila mereka tertangkap baik oleh aparatataupun oleh warga sekitar yang sedang beroperasi untuk menertibkan lingkungannya, mereka kerap mendapatkan hukuman. Hukumannya bervariasi, ada yang digiring ke kantor polisi untuk diberi pembinaan atau ada juga yang diberi sangsi hukuman adat antara lain digunduli atau ditelanjangi dan diarak jalan keliling kampung. Mereka juga digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka juga diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Pekerjaan melacur dikenal di masyarakat sejak lama.

Augustinus dari Hippo (354-430) adalah seorang bapak gereja. Ia mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat "selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya." Artinya, banyak pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu tang buruk namun di sisi lain tetap ada orang membutuhkan.
Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki); tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa kaum perempuan baik-baik. Sungguh dilema.

Jogja sering kita kenal sebagai Kota Pelajar dan kota Gudeg. Di sini ada daerah yang bernama Pasar Kembang. Daerah ini terletak di pusat kota, dekat Malioboro. Setiap orang yang pernah tinggal di Jogja pasti akan mengenal daerah ini, minimal tau, atau paling tidak pernah mendengar orang menyebut daerah ini. Dan saat nama Pasar Kembang disebut, pasti satu hal yang terlintas di benak kita yaitu tempat prostitusi. Karena Sudah sejak dulu memang Pasar Kembang identik dengan sebutan "komplek Wisata Lendir"

Penyair W.S. Rendra pernah menulis dua buah puisi tentang pelacur yang lebih netral dalam "Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta!" Bahkan lebih dari itu, dalam puisinya "Nyanyian Angsa", Rendra melukiskan Maria Zaitun, seorang pelacur, yang justru menjadi kekasih Tuhan, yang dikontraskannya dengan kaum agamawan yang menjauhkan diri daripadanya.

Saya tidak mengatakan pelacuran itu dilegalkan dan tidak salah. Saya yakin dalam agama dan kepercayaan manapun pasti mengajarkan bahwa berhubungan intim dengan orang yang bukan pasangan (suami atau istri) kita itu tidaklah benar. Namun yang akan saya tekankan disini adalah pandangan kita terhdap mereka. Setiap orang berhak untuk memiliki pandangan masing-masing terhadap mereka. Namun seringkali kita hanya terfokus pada pelacurnya, kita anggap mereka kotor, menjijikan, sampah masyarakat sehingga mereka pantas untuk mendapatkan pembinaan dan hukuman. Lalu bagaimana dengan yang melacur? Apakah mereka tidak salah? Apakah karena mereka membeli dan bukan menjual, mereka dianggap lebih benar dibanding si penjual? Sekali-kali tidak.
Jadi kalau ada yang berfikir, yang harus mendapatkan hukuman atau binaan adalah si pelacur, saya rasa kurang tepat. Karena yang melacur pun perlu juga untuk mendapatkan binaan.

Rabu, 04 Februari 2009

Warga Muara Angke Yang Makan Ikan Sampah


Sejumlah warga mencari ikan di tengah tumpukan sampah di Blok Empang, Perkampungan Nelayan Muara Angke, Jakut, Rabu (4/2/2009). Tingginya harga lauk pauk mendorong warga melakukan tindakan ini.

Mengerikan sekali!!!
Apakah sudah sedemikian miskinnya negeri ini?

Atau kah, sudah habis rasa peduli antara manusia yang satu dengan yang lain?

Lihat saja, betapa mirisnya negeri ini. Yang satu, kalau tidak makan di restoran mewah ... tidak bisa makan, namun yang lain harus menggorek-gorek sampah baru bisa makan.
ow..kesenjangan yang begitu terasa. Tidak ada yang salah dengan makan di restoran mewah, yang salah adalah saat kita menutup mata dengan dunia sekitar dan hanya mempedulikan diri sendiri.

Do something.....

Rabu, 28 Januari 2009

The Life of Street Children

Menjadi seorang anak jalanan, jelas bukanlah suatu cita-cita yang diidam-idamkan setiap orang, namun merupakan sebuah keputusan yang lahir karena keterpaksaan. Latar belakang minimnya faktor ekonomi dan keluarga yang tidak harmonis, untuk saat ini disinyalir masih menjadi faktor utama yang membuat mereka lari ke jalan. Saking sumpeknya batin mereka karena melihat keluarga yang tidak harmonis dan mungkin juga karena mereka sudah tidak tahu lagi harus berlari kemana, maka jalananlan yang menjadi opsi utama untuk mereka. Selain bisa mencari uang untuk bisa survive, mereka juga bisa mendapatkan kebebasan.
Pada dasarnya yang mereka inginkan hanya sebuah pengakuan dan kebebasan, namun dalam kehidupan masyarakat kita seringkali hanya menganggap mereka sebagai perusak pemandangan.

Bagi manusia yang normal, jalanan bukanlah tempat yang aman. Bukan berarti saya merasa lebih normal dari mereka, bukan berarti juga saya mengganggap mereka tidak normal. Namun, mari kita bayangkan bersama-sama. Untuk anak-anak, yang bisa dikatakan belum tau untung rugi, laju kendaraan yang lalu lalang itu kan amat sangat berbahaya. Kalau tidak hati-hati, bisa saja mereka terserempet atau malah tertabrak. Belum lagi, mereka harus menerima teror psikis yang begitu luar biasa. Baik berbentuk penolakan, ejekan, makian, bahkan mungkin pelecehan,dan mereka juga harus bersinggungan secara langsung dengan kerasnya kehidupan di jalanan dan yang secara perlahan hal tersebut akan terekam dalam ingatan mereka, dimana hal tersebut akan membentuk perilaku dan kepribadian mereka yang mungkin akan terbawa sampai generasi di bawahnya.

Badi adalah salah satu anak jalanan yang sering mangkal di daerah selokan UGM. Dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ibunya buka warung kecil. Namun karena minimnya ekonomi di keluarganya maka ia memutuskan menjadi peminta-minta di lampu merah Selokan UGM guna membantu ibunya, untuk biaya sekolahnya dan adik-adik. Menurut ceritanya, pagi hari ia sekolah dan setelah itu biasanya dia mangkal di sana.
Badi adalah salah satu contoh anak jalanan yang turun ke jalan karena alasan utamanya adalah faktor ekonomis. Tapi masih selain dia lebih banyak lagi yang turun ke jalan karena faktor keluarga. Saya tidak hafal siapa saja namanya, namun kebanyakan mereka lari karena mereka tidak betah di rumah. Ada yang karena sering dipukulin, ada juga yang orang tuanya bercerai dan kawin lagi, dan masih banyak lagi.

Mereka kadang bisa menghabiskan waktunya sepanjang hari di jalanan. Dan karena itu pula, pola pikir mereka mulai terbentuk, seperti saat mereka dilarang melakukan sesuatu bagi mereka malah seperti disuruh. Mungkin hal tersebut tidak hanya terjadi pada mereka, saya akui seringkali saya juga tanpa sengaja melakukan hal tersebut :p. Sebenarnya disini yang ingin saya tekankan adalah bahwa lingkungan sanyat mempengaruhi perilaku kita.

Mereka mempunyai gaya berdandan sendiri, mungkin dengan berdandan kusut dan kumal mereka akan mendapat belas kasihan lebih dari orang-orang, dan mereka berpandangan kalau mereka mernggunakan pakaian yang bersih dan rapi itu justru akan mengancam diri mereka sendiri. Karena dengan berpakaian seperti itu orang-orang tidak akan tersentuh hatinya.

Musik merupakan suatu media untuk meciptakan ruang bagi mereka untuk bersuara dan dapat digunakan sebagai alat untuk memberdayakan dirinya. Selain untuk mencari sesuap nasi, bermain musik juga dapat dijadikan alat untuk membangun solidaritas. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu mereka seringkali memainkan musik secara bersama-sama dan di waktu inilah mereka biasanya menyuarakan pandangan dan aspirasi mereka.
Biasanya yang mereka suarakan merupakan satu kritik terhadap masyarakat yang mengalami menutup mata melihat yang ada disekitarnya.

Diluar kekurangan dan keterbatasan mereka, mereka masih manusia yang sama seperti kita. Dimana mereka mempunyai harapan, perasaan dan hak-hak yang sama juga.

Rabu, 14 Januari 2009

Dinginnya Jogja Menusuk Tulangku

Hujan beberapa hari ini sungguh deras, anginnya pun kurasakan sangat kencang membuat pohon-pohon di sekitar kost ku bergelayur cukup santer serasa hampir merobohi sekitarnya.
Hujan yang bercampur dengan tiupan angin dan dibumbui dengan suara geledek, kadang membuat aku merasa was-was. Sebenarnya aku sendiri pun tidak mengerti mengapa aku merasa demikian, dan anehnya lagi aku tidak tau siapa yang aku khawatirkan dengan keadaan ini, apakah mungkin... di masa kecilku aku mengalami sesuatu yang membuat aku was-was kalau sedang hujan, dan merasakan sedih yang amat sangat mendalam saat mendung?...ehm... mungkin saja:p
Tapi sebalnya... saat aku menceritakan hal ini ke teman-temanku atau ke keluargaku, mereka malah menertawaiku, dirasanya aku terlalu melebih-lebihkan, padahal memang hal ini yang sesungguhnya kurasakan. Saat mereka menertawaiku, aku pun tidak kuasa menahan tawa hanya bedanya.. kalau mereka menertawaiku karena merasa aku sangat berlebihan, tetapi kalau aku tertawanya karena merasa kesal coz tidak ada yang mempercayaiku :p .
Sampai saat ini, setiap kali ada mendung... mamaku selalu meledekku. Katanya: " Kamukan selalu sedih ya kalo liat mendung, hehhehe."
Menyebalkan juga ya.... tapi sekaligus menyenangkan, karena secara tidak langsung mama memperhatikan setiap detail perkataanku dan cukup peduli denganku, meski saat itu dia hanya mengangguku saja. Ehm.. kalau membicarakan ini aku jadi kangen sama mamaku. Mungkin sudah saatnya aku untuk merubah pradigma pemikiranku tentang hujan ya hehehhe. Mungkin alangkah baiknya kalau aku tidak lagi merasa was-was kalau sedang hujan, tapi hujan membuatku kangen mama.. (yaaah sepertinya itu lebih baik).
Tapi yang namanya hujan, mau kangen sama mama ataupun kangen sama siapa saja tetap saja tidak ada yang bisa merubah bahwa yang namanya hujan tetap saja dingin. Tapi kurasakan betul, bahwa hujan kali ini... dinginnya sampai menusuk tulangku. Saking dinginnya kulitku pun sampai memerah. Rasanya yang ingin kulakukan hanya berselimut di kamar, makan cemilan dan lihat TV... oh tidak... betapa malasnya pikiranku....:p oh common girls, you must be spiritfull, do not spend your time with lazy..do something more usefull.

ShoutMix chat widget